Mudhorobah (Kerjasama Mitra Usaha dan Investasi)

Secara bahasa mudharabah berasal dari akar kata dharaba – yadhribu – dharban yang bermakna memukul. Dengan penambahan alif pada dho’, maka kata ini memiliki konotasi “saling memukul” yang berarti mengandung subjek lebih dari satu orang. Para fukoha memandang mudharabah dari akar kata ini dengan merujuk kepada pemakaiannya dalam Al-Qur’an yang selalu disambung dengan kata depan “fi” kemudian dihubungkan dengan “al-ardh” yang memiliki pengertian berjalan di muka bumi.

Adapun lebih jelasnya yaitu perjanjian antara pemilik modal (uang atau barang) dengan pengusaha (enterpreneur). Di mana pemilik modal bersedia membiayai sepenuhnya suatu proyek atau usaha dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian.

Pemilik modal tidak dibenarkan ikut dalam pengelolaan usaha, tetapi diperbolehkan membuat usulan dan melakukan pengawasan. Apabila usaha yang dibiayai mengalami kebangkrutan atau rugi, maka kerugian tersebut sepenuhnya ditanggung oleh pemilik modal, kecuali apabila kerugian tersebut terjadi karena penyelewengan atau penyalah gunaan oleh pengusaha.

Oleh karena itu ada beberapa syarat di dalam mudharabah antara lain adalah sebagai berikut :

1. Modal

  • Modal harus dinyatakan dengan jelas jumlahnya, seandainya modal berbentuk barang maka barang tersebut harus dihargakan dengan harga semasa dalam uang yang beredar (atau sejenisnya)
  • Modal harus dalam bntuk tunai dan bukan piutang.
  • Modal harus diserahkan kepada mudharib, untuk memungkinkannya melakukan usaha.

2. Keuntungan

  • Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam persentase dari keuntungan yang mungkin dihasilkan nanti.
  • Kesepakatan rasio persentase harus dicapai melalui negoisasi dan dituangkan di dalam kontrak.
  • Pembagian keuntungan baru dapat dilakukan setelah mudharib mengembalikan seluruh (atau sebagian) modal kepada Rab al mal.